Makalah Sistem Penggemukan Sapi Potong
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi didalam negeri
belum mampu dicukupi oleh peternak di Indonesia sebagai produsen lokal.Kondisi
ini menyebabkan Indonesia melakukan impor daging sapi maupun ternak sapi,
selain itu banyak terjadi pemotongan ternak produktif untuk memenuhi permintaan
daging sapi, yang akhirnya dapat menyebabkan populasi ternak sapi semakin
menurun.Oleh karena itu peningkatan populasi sapi potong perlu dilakukan.
Sistem
penggemukan sapi potong
yang biasa dilakukan
oleh peternak adalah sistem kereman .Sistem ini merupakan sistem
penggemukan yang dilakukan dengan menempatkan
sapi dalam kandang
secara terus menerus
selama beberapa bulan.
Pemberian pakan dan
minum dilakukan dalam kandang, tidak dilakukan
penggembalaan selama proses
berlangsungnya penggemukan (Sugeng,
2002).Pakan yang diberikan
pada sistem ini
terdiri dari hijauan
dan konsentrat dengan
perbandingan tergantung dengan
ketersedian pakan hijauan
dan konsentrat (Siregar,
2002). Dijelaskan lebih
lanjut bahwa apabila
hijauan tersedia banyak
maka hijauanlah yang
lebih banyak diberikan, sebaliknya apabila
pakan konsentrat mudah diperoleh,
tersedia banyak dan
harga relatif murah
maka pemberian konsentrat yang
diperbanyak.
Usaha penggemukan
sapi potong berhubungan erat dengan
pertanian. Hasil pertanian tanaman pangan semakin tinggi, limbah
pertanian yang dihasilkan
juga semakin tinggi
sehingga memungkinkan kepemilikan
ternak yang semakin
tinggi pula. Hal
ini terjadi karena
fungsi ternak sapi
potong sebagai penunjang
usaha tani dalam
menghasilkan pupuk organik,
penambahan pendapatan, tenaga
kerja ternak dan
berfungsi juga sebagai
tabungan. Ternak sapi
potong juga mempunyai
nilai ekonomis untuk
bermacam - macam tujuan yaitu sebagai ternak pertanian, ternak
pengangkut, ternak potong dan kerja,
sumber bahan industri (Atmadilaga ,
1983).
Tujuan dari penggemukan
ternak sapi adalah
untuk meningkatkan produksi
daging persatuan ekor,
meningkatkan jumlah penawaran
daging secara efisien tanpa memotong sapi lebih banyak, menanggulangi populasi ternak
sapi yang menurun
akibat pemotongan dan dapat
menghindari pemotongan sapi
betina umur produktif.
BAB II
PEMBAHASAN
Penggemukan sapi
pada dasarnya adalah
mendayagunakan potensi genetik
ternak untuk mendapatkan
pertumbuhan bobot badan
yang efisien dengan memanfaatkan input pakan serta sarana
produksi lainnya, sehingga menghasilkan
nilai tambah usaha yang ekonomis.
Ada
beberapa sistem penggemukan ternak sapi.Perbedaan sistem penggemukan ini sering
didasarkan pada teknik pemberian pakan, luasan areal lahan, umur, kondisi sapi
dan jangka waktu penggemukan. Beberapa sistem penggemukan sapi potong yang
dikenal antara lain;
A.
Pasture Fattening
Pasture
atau padang penggembalaan adalah lahan yang digunakan untuk penggembalaan
dan sumber hijauan segar bagi ternak. Menurut Parakkasi (1999), pasture adalah
suatu lapangan terpagar yang ditumbuhi hijauan dengan kualitas unggul dan
digunakan untuk menggembalakan ternak ruminansia. Ciri-ciri pasture yang baik
yaitu produksi bahan kering tinggi, memiliki kandungan nutrien terutama protein
kasar yang tinggi, tahan renggutan dan injakan serta kekeringan saat musim
kemarau, pemeliharaannya mudah, daya tumbuh cepat, nisbah daun dan batang
tinggi, mudah dikembangkan jika dikombinasikan dengan tanaman legume, ekonomis
dan mempunyai palatabilitas yang tinggi.Sistem Penggemukan Sapi Potong
Jenis Pasture Fattening adalah sistem
penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara menggembalakan sapi di padang
penggembalaan. Dengan demikian, teknik pemberian pakan dalam sistem ini adalah
dengan penggembalaan. Tidak ada penambahan pakan berupa konsentrat maupun
biji-bijian sehingga pakan yang tersedia hanya berasal dari hijauan yang
terdapat di padang penggembalaan. Oleh karena itu, hijauan yang terdapat di
padang penggembalaan disamping rumput-rumputan yang ada, haruslah ditanami
dengan leguminosa agar kualitas hijauan yang ada di padang penggembalaan itu
lebih tinggi. Apabila hanya mengandalkan rumput-rumputan saja dan tanpa
penanaman leguminosa maka tidak dapat diharapkan pertambahan bobot sapi yang
lebih tinggi.
Kekurangan : 1. Apabila hanya mengandalkan
rumput-rumputan saja dan tanpa penanaman leguminosa maka
tidak dapat diharapkan pertambahan bobot sapi yang lebih tinggi
Kelebihan : 1. Mudah dalam pemeliharaan.
2. lebih ekonomis dan petabilitas tinggi.
B.
Fattening Intensif (Dry Lot Fattening)
Dry lot
fattening merupakan sistem penggemukan sapi dengan pemberian ransum
atau pakan yang mengutamakan biji-bijian seperti jagung, sorgum atau
kacang-kacangan. Di Amerika Serikat, penggemukan sapi dengan sistem dry
lot fattening dilakukan pada daerah pusat produksi jagung yang
dikenal dengan corn belt.Pemberian jagung yang telah digiling dan
ditambah dengan pemberian hijauan yang berkualitas sedang pada penggemukan sapi
sudah memberikan pertambahan bobot badan yang lumayan.Namun, belakangan ini
penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening bukan hanya
memberikan satu jenis biji-bijian saja, tetapi sudah merupakan suatu bentuk
yang diformulasi dari berbagai jenis bahan pakan konsentrat.
Bahan-bahan yang dipergunakan dapat terdiri dari jagung giling, bungkil kelapa, dedak padi, polard, bungkil kelapa sawit, ampas tahu, dan sebagainya.Dengan penambahan mineral dan garam dapur, bahan-bahan tersebut diformulasi dan menjadi bentuk pakan jadi yang disebut konsentrat. Sapi dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat kasar yang antara lain bersumber pada hijauan untuk memperlancar dan mengoptimalkan proses pencernaannya. Oleh karena itu, pemberian hijauan pada penggemukan dengan sistem dry lot fattening sangat dibatasi oleh batas-batas tertentu yang tidak akan mengganggu proses pencernaan. Untuk itulah, dibuat batasan minimal pemberian hijauan dalam komponen pakan atau ransum ternak ruminansia.
Bahan-bahan yang dipergunakan dapat terdiri dari jagung giling, bungkil kelapa, dedak padi, polard, bungkil kelapa sawit, ampas tahu, dan sebagainya.Dengan penambahan mineral dan garam dapur, bahan-bahan tersebut diformulasi dan menjadi bentuk pakan jadi yang disebut konsentrat. Sapi dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat kasar yang antara lain bersumber pada hijauan untuk memperlancar dan mengoptimalkan proses pencernaannya. Oleh karena itu, pemberian hijauan pada penggemukan dengan sistem dry lot fattening sangat dibatasi oleh batas-batas tertentu yang tidak akan mengganggu proses pencernaan. Untuk itulah, dibuat batasan minimal pemberian hijauan dalam komponen pakan atau ransum ternak ruminansia.
Untuk penggemukan
sapi dengan sistemdry lot fattening memerlukan
kebutuhan minimal hijauan berkisar 0,5—0,8% bahan kering dari bobot sapi yang
digemukkan. Selain itu, sapi yang digemukkan dengan sistem ini harus selalu
berada di dalam kandang dan tidak digembalakan.Sapi bakalan yang digemukkan
dengan sistem dry lot fattening pada umumnya adalah sapi-sapi jantan
yang telah berumur lebih dari satu tahun dengan lama penggemukan berkisar 4—6
bulan.
Kekurangan : 1. Biyaya produksi lebih tinggi
untuk membeli konsentrat.
2.
Tidak ekonomis apabila di terapkan di indonesia.
Kelebihan : 1. Mudah dalam pengawasan
2. Pengendalian penyakit cepat di lakukan
3. Pertumbuhan
bobot badan tinggi.
C. Sistem
kereman
Penggemukan
sapi dengan sistem kereman dilakukan dengan cara
menempatkan sapi-sapi dalam kandang secara terus-menerus selama beberapa bulan.
Sistem ini tidak begitu berbeda dengan penggemukan sapi dengan sistem dry lot,
kecuali tingkatnya yang masih sederhana. Pemberian pakan dan air minum dilakukan
dalam kandang yang sederhana selama berlangsungnya proses penggemukan.
Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan
perbandingan yang tergantung pada keresediaan pakan hijau dan
konsentrat.Apabila hijauan tersedia banyak maka hijauanlah yang lebih banyak
diberikan.Sebaliknya, apabila pakan konsentrat mudah diperoleh, tersedia banyak
dan harganya relatif murah maka pemberian konsentratlah yang diperbanyak.Namun,
ada pula peternak yang hanya memberikan hijauan saja tanpa adanya pemberian
konsentrata ataupun pakan lainnya.sudah barang tentu hal ini dapat dilakukan
pada daerah-daerah yang masih potensial menyediakan hijauan.
Kekurangan : 1. Apabila pembersihan kandang tidak sering di lakukan maka
ternak rentan terkena penyakit sebab sistem perkandaganya masih sederhana.
Kelebihan : 1. Mudah dalam pengawasan
2. Pengendalian penyakit cepat di lakukan
3. Biyaya pemeliharaan lebih murah karena bergantug pada
musim.
D.
Sistem kombinasi pasture dan dry
lot fattening
Penggemukan sapi dengan sistem
kombinasi pasture dan dry lot fattening banyak dilakukan di daerah-daerah subtropis maupun tropis
dengan pertimbangan musim dan ketersediaan pakan. Di daerah subtropis, pada
musim dingin sebelum salju turun, sapi digemukkan dengan sistem pasture.
Setelah turun salju, penggemukan sapi diteruskan dengan sistem dry lot.
Sedangkan untuk daerah tropis, pada musim banyak produksi hijauan ataupun
rumput, penggemukan sapi dilakukan dengan pasture. Pada musim tertentu pada
musim kemarau, sewaktu produksi hijauan sudah sangat menurun, penggemukan sapi
diteruskan dengan sistem dry lot.
Penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot
fattening dapat pula diartikan dengan menggembalakan sapi-sapi padan
padang-padang penggembalaan di siang hari selama beberapa jam, sedangkan pada
sore dan malam hari sapi-sapi dikandangkan dan diberi pakan konsentrat
secukupnya. Sistem demikian ini umumnya terdapat pada daerah yang luas padang
penggembalaannya sudah sangat terbatas.
Dibandingkan dengan sistem penggemukan sapi pasture
fattening, lama penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot
fattening lebih singkat, tetapi lebih lama dibandingkan dengan sistem dry lot
fattening. Lama penggemukan sapi pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor
dan terutama adalah umur, kelamin, kondisi, bobot, dan kualitas maupun
kuantitas pakan yang diberikan. Dapat ditambahkan, bahwa sapi yang lebih muda
memerlukan waktu penggemukan yang lebih lama dibandingkan dengan sapi yang telah
berumur tua. Dalam kaitan antara umur dengan lama penggemukan, dapat
dikemukakan sebagai berikut:
- Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur kurang dari satu tahun, lama penggemukan berkisar antara 8-9 bulan.
- Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 1-2 tahun, lama penggemukan berkisar antara 6-7 bulan.
- Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 2-2.5 tahun, lama penggemukan berkisar antara 4-6 bulan.
Kekurangan :
Kelebihan :
Dari system pengeemukan yang telah
dijelaskan di atas, cara penggemukan sapi yang tinkat keberhasilannya besar
adalah penggemukan sapi yang dikurung di dalam kandang atau lazim disebut
sistem kereman. Dikarenakan sapi lebih banyak berada di dalam kandang yang
menyebabkan sedikitnya energy yang di keluarkan, sehingga pakan yang diberikan
dapat lebih optimal untuk pembentukan daging. Selain itu peternak lebih mudah
untuk memantau ternak dari segi konsumsi pakan yang diberikan dan pengendalian
penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan sapi. Penggemukan dengan cara ini
disamping dapat meningkatkan nilai jual sapi juga akan memberikan nilai tambah
terhadap kotoran ternak atau pupuk kandang yang dihasilkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Atmadilaga, D. 1983. Ruminansia
Besar dalam Perspektif Sistem Pembangunan Peternakan di Indonesia.Prosiding
Pertemuan Ruminansia Besar.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Departemen Pertanian, Bogor.
Siregar,
S. B. 2002. Penggemukan Sapi. Cetakan ke-6. Penerbit Swadaya, Jakarta.
Sugeng,
Y. B. 2002. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Comments
Post a Comment