Makalah Pengolahan Limbah Darah Menjadi Tepung Darah

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
            Limbah ternak adalah segala sesuatu sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya. Limbah peternakan yang dihasilkan oleh aktivitas peternakan seperti feces, urin, sisa pakan, darah, serta air dari pembersihan ternak dan kandang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan berdampak negatif akan keseimbangan lingkungan sekitar dan dapat memicu protes masyarakat sekitar.
            Salah satu dari limbah peternakan adalah darah, darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme. Darah merupakan hasil ikutan ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi ternak. Darah dapat diolah dan dimanfaatkan dalam bahan pakan ternak dalam bentuk tepung darah. Sehingga limbah ternak dapat diolah untuk tamabahan protein dalam pakan ternak.
1.2.Rumusan Masalah
1. Apa Itu tepung darah?
2. Bagaimana cara pengolahan tepung darah?
3. Apa saja kandungan dalam tepung darah?
1.3.Manfaat
1. Tau apa yang di makud tepung darah.
2. Dapat mengetahui cara pengolahan tepung darah.
3. Mengerti apa saja kandungan dalam tepung darah.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Tepung Darah
            Tepung darah adalah partikel yang berebntuk butiran halus yang bersumber dari darah ternak yang biasanya digunakan untuk pakan ternak. Menurut  Padmono   (2005), t epung  darah  merupa kan  bahan  pakan  ternak  yang  berasal  dari  darah  segar  (sapi,  kerbau,  kambing   dan   domba) yang   diperoleh dari  Rumah  Potong  Hewan  (RPH).Tepung darah adalah salah satu sumber protein yang berpotensi bagi pakan ikan dan ternak (Bureau 2000; Tacon 2005). Tepung darah memiliki kadar protein sangat tinggi yaitu sekitar 85%- 92%. Penggunaannya bersamaan dengan beberapa bahan lain yang bersifat saling melengkapi akan dapat meningkatkan kualitas nutrisi dan performa pertumbuhan ikan. Akan tetapi diketahui pula bahwa tepung darah mengandung zat besi yang sangat tinggi, dan keberadaannya dapat mengganggu metabolisme zat nutrisi lain, sehingga berdampak pada menurunnya laju pertumbuhan apabila dikonsumsi secara intensif.
Pemanfaatan tepung  darah  seba gai pakan unggas sangat terbatas, peng gunaannya dalam ransum tidak direkomendasikan lebih dari 5%  (Dafwang et al., 1986), hal ini dikarenakan kecernaan dari tepung darah tidak efisien seperti kecernaan tepung ikan (Haqet el.,2004). Crawshaw (1994) menyatakan keterbatasan penggunaan tepung darah d alam ransum broiler dikarenakan keti da seimbangan asam amino yang menyebabkan menurunnya performa  ternak.

2.2. Cara Pengolahan Tepung Darah
A. Pengeringan
Metode pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara pengeringan biasa atau melalui pemanasan (vat drying) dan menguapkan air dengan suhu rendah (freeze drying) (Setiowati et al., 2014). Pengolahan darah dengan cara pengeringan ini biasanya dilakukan dengan cara perebusan terlebih dahulu sebelum darah dikeringkan. Perebusan darah ini dapat menyebabkan terdenaturasinya protein, hal ini dikarena perebusan memerlukan suhu yang tinggi yaitu sekitar 80-100oC.  Denaturasi prote-in mengakibatkan turunnya kelarutan, peningkatan viskositas, hilangnya aktifitas biologi dan protein mudah diserang enzim proteolitik (Oktavia, 2007).
Denaturasi juga menyebabkan protein kehilangan karakteristik struktural dan beberapa kandungan senyawa di dalamnya, namun struktur utama protein seperti C, H, O dan N tidak akan berubah (Stoker, 2010). Denaturasi yang diakibat oleh perlakuan panas pada protein menyebabkan molekul - molekul yang menyusun protein bergerak dengan sangat cepat sehingga sifat protein yaitu hidrofobik menjadi terbuka. Akibatnya, semakin panas, molekul akan bergerak semakin cepat dan memutus ikatan hidrogen di dalamnya (Vladimir, 2007)
Khawaja et al. (2007) melakukan pengolahan tepung darah dengan cara penge- ringan dimana darah terlebih dulu direbus dengan suhu 100oC selama 45 menit untuk mengurangi kadar air dan bakteri patogen. Setelah direbus kemudian dikeringkan di oven dengan suhu 55oC selama 6 hari dan kemudian digiling. Produk tepung darah yang dihasilkan oleh Khawaja hanya dapat dimanfatkan sebagai bahan pakan penyusun ransum broiler sebesar 3%. Setiowati et al. (2014) juga telah melakukan pengolahan darah sapi menjadi tepung darah dengan metode pengeringan. Darah segar direbus selama 20 menit dengan suhu 80oC dan diaduk rata, kemudian dijemur dibawah sinar matahari dengan ketebalan ± 1 cm selama 16 jam, lalu di oven dengan suhu 60oC selama 2-3 hari dan terakhir digiling hingga menjadi tepung. Dari percobaan yang dilakukan Setiowati, tepung darah sebanyak 4% merupakan hasil terbaik dari 8% dan 12% yang ditambahkan di dalam ransum burung puyuh.
Banyak penelitian yang telah dilakukan menunjukkan perlakuan panas dalam pengolahan bahan pakan sumber protein dapat mengalami penurunan kualitas protein dan menurunkan kecernaan. Penurunan kecernaan asam amino lysine dan histidine yang disebabkan oleh panas yang tinggi telah dilaporkan Zhang dan Parsons (1994). Penurunan kecernaan lysine ini dikarenakan pembentukan reaksi maillard yang terjadi selama proses pemanasan (Hurrel,1990). Lysine adalah asam amino esensial yang memiliki gugus amin yang mudah bereaksi dengan gugus karbonil dari gula pereduksi (Nursten, 2005), sehingga pada saat reaksi Maillard terjadi maka ketersediaan lysine berkurang (Pahm et al., 2008). Meskipun kehilangan gula lebih besar dibandingkan kehilangan asam amino (Adrian et al., 1962), tetapi reaksi Maillard dapat menurunan kualitas protein (Adrian, 1974).
B. Penyerapan (Penyampuran)
Metode pengolahan dengan cara penyerapan (pencampuran) merupakan pengolahan yang dilakukan dengan mencampurkan darah dengan limbah pertanian atau dengan limbah hasil ikutan ternak. Sonaiya (1988) menyarankan menggunakan limbah tanaman atau limbah industri pertanian sebagai bahan absorban (penyerap) untuk tepung darah agar meningkatkan luas permukaan sehingga cepat dalam proses pengeringan.
Makinde dan Sonaiya (2011) melakukan pengolahan tepung darah dengan metode penyerapan (pencampuran). Limbah jagung dicampur dengan darah segar (darah dicegah dari pembekuan selama 6 jam dengan menggunakan 18 g garam/liter darah. Perban- dingan limbah jagung dan darah sebesar 1:1 (w/w), kemudian campuran limbah jagung dan darah dikeringkan dengan sinar matahari selama 3-4 jam, dicampur lagi dengan darah (5:4 w/w) dan digiling dalam bentuk tepung setelah kering. Penggunaan campuran limbah jagung dan darah ini dalam ransum ayam broiler dapat digunakan sebesar 15% untuk broiler starter dan finisher. Makinde dan Sonaiya (2007, 2010) telah melaporkan prosedur sederhana dalam mengoptimalisasi pencampuran limbah tanaman dan darah, dimana prosedur pencampuran ini dapat mem- percepat proses pengeringan darah dengan sinar matahari (<4 hari), meningkatkan protein kasar dari limbah jagung dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan dari limbah Rumah Potong Hewan (RPH).
Odunsi (2003) telah melakukan pencampuran darah sapi dengan cairan rumen untuk menggantikan bungkil kacang tanah dan tepung ikan dalam ransum ayam petelur. Darah segar dan cairan rumen ditimbang dengan rasio perbandingan 1:1, kemudian dicampurkan dan direbus selama 90 menit sambil diaduk agar tercampur merata. Selan- jutnya campuran darah dan cairan rumen dijemur di bawah sinar matahari sampai kandungan airnya mencapai 15%, kemudian digiling. Pada penelitian ini, penggunaan cam- puran darah dan cairan rumen sebagai bahan pakan tidak mendukung sepenuhnya dalam meningkatkan performa jika dibandingkan de- ngan ransum yang tanpa pemberian tepung darah. Penambahan campuran darah dan cairan rumen dalam menggantikan tepung  ikan memberikan respon performa yang lebih bagus daripada menggantikan bungkil kacang tanah. Penambahan tepung darah dan atau cairan rumen telah dilaporkan (Donkoh et al., 1999; Abubakar dan Yusuph, 1991) dapat memberikan bau yang buruk terhadap ransum sehingga mengurangi palatabilitas yang meng- akibatkan penurunan konsumsi dan selanjut- nya menurunkan performa broiler (Dongmo et al., 2000; Emmanuel, 1978).
Onyimongi dan Ugwu (2007) mela- kukan pencampuran kulit singkong dengan darah sapi dengan perbandingan 1:1; 1:2; 1:3; 2:1; dan 3:1 untuk menggantikan 50% bungkil kedelai. Darah sapi segar dan kulit singkong ditimbang sesuai dengan perbandingan pen- campuran, kemudian dicampurkan dan diaduk hingga merata. Campuran di rebus selama 30 menit    pada    suhu    75-80oC    dan  dijemur.
Kandungan protein kasar meningkat dengan semakin tingginya komposisi darah, sementara kandungan protein menurun dengan per- bandingan komposisi kulit singkong yang tinggi. Kecenderungan peningkatan protein tersebut dikarenakan tepung darah memiliki protein yang tinggi. Komponen serat kasar menurun dengan peningkatan fraksi tepung darah, dan sebaliknya jika peningkatan fraksi kulit singkong maka komponen serat kasar meningkat. Dari percobaan yang dilakukan Onyimongi dan Ugwu pakan broiler starter yang mengandung berbagai variasi perban- dingan kulit singkong dengan darah sapi efektif meningkatkan pertumbuhan broiler, namun dari analisis ekonominya perbandingan campuran kulit singkong dan darah sapi 1:3 memberikan keuntungan ekonomi yang optimum.
Pengolahan tepung darah menggunakan metode penyerapan (pencampuran) lebih baik dibandingkan dengan pengolahan tepung darah menggunakan metode pengeringan, hal ini dapat dilihat dari meningkatnya pemanfaa- tan tepung darah sampai 15% dalam ransum unggas yang diolah dengan metode penyera- pan. Pengolahan tepung darah dengan cara pe- nyerapan ini juga dapat mempercepat proses pengeringan yang dapat mempersingkat waktu pembuatan tepung darah dan juga dapat meningkatkan kualitas nutrisi dari limbah pertanian yang digunakan sebagai bahan penyerap darah.
Pengolahan tepung darah dengan cara pengeringan memiliki beberapa kendala di dalam proses pengolahannya yaitu pada proses perebusan darah yang memerlukan sugu tinggi sekitar 80-100oC yang dapat menyebabkan protein mengalami denaturasi. Pengolahan dengan metode pengeringan juga memiliki kelemahan pada proses pengeringan yang memerlukan waktu yang lama yaitu sekitar 3-6 hari, hal ini dikarenakan kandungan air tepung darah yang tinggi.


C. Fermentasi
Pengolahan tepung darah dengan metode fermentasi biasanya dilakukan dengan menyerapkan atau mencampurkan darah dengan limbah pertanian atau limbah rumah potong hewan dengan menggunakan mikro- organisme sebagai inokulum dan difermentasi sesuai dengan keadaan optimal yang dapat meningkatkan aktivitas mikroba. Fermentasi membutuhkan biaya yang sedikit dan dapat meningkatkan bioavailability nutrisi dengan meningkatkan kecernaan nutrisi ternak (Esonu et al., 2011).
Esonu et al. (2011) melakukan fermentasi campuran darah sapi dengan cairan rumen yang dicampur dengan perbandingan 1:3 dan kemudian dilanjuti dengan fermentasi selama 4 hari. Kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari 3-4 hari tergantung intensitas sinar matahari. Fermentasi campuran darah sapi dan cairan rumen dibumbui dengan bubuk kari untuk menutupi bau tak sedap. Campuran digiling hingga menjadi bentuk tepung dan dicampurkan dalam ransum sebesar 5, 10, 15 dan 20%. Hasil percobaan menunjukkan penambahan fermentasi campuran darah dan cairan rumen pada level 10% dilaporkan memiliki konsumsi pakan dan pertambahan berat badan yang paling tinggi pada broiler finisher. Peningkatan performa broiler yang mengandung fermentasi campuran darah dan cairan rumen bisa dikaitkan dengan kan- dungan protein yang tinggi yaitu sebesar 29,86%. Peningkatan ini juga bisa disebabkan pengaruh protein mikroba, pati tercerna dan karbohidrat berserat, asam lemak rantai panjang dan sebagian protein tercerna dari bahan percobaan (Esonu et al., 2006; Okorie, 2005; Ekwuoma, 1992; Whyte dan Wadak,2002; Aganga, 1985 dan Odunsi, 2003).
Xu et al. (2011) melakukan Fermentasi Rapeseed Meal (FRSM) untuk menggantikan bungkil kedelai pada ransum itik. 75% rapeseed meal dicampur dengan 25% tepung darah dan diinokulasikan dengan Lactobacillus plantarum dan Bacillus subtilis yang difermentasi selama 21 hari. Fermentasi rapessed meal dan tepung darah menggantikan bungkil kedelai sebesar 0, 33, 67 dan 100%. Hasil menunjukkan konsumsi pakan itik yang diberi 100% FRSM lebih baik dibandingkan dengan itik yang diberi pakan bungkil kedelai dan sebagian FRSM (33 dan 67%). Pertum- buhan harian itik meningkat bertahap pada penggantian bungkil  kedelai 33, 67 dan 100% (75,9; 76,3; dan 80,1 g), sementara pertum- buhan harian itik yang diberi bungkil kedelai 100% sebesar 78,1g. Pemberian fermentasi rapeseed meal dan tepung darah dalam menggantikan 100% bungkil kedelai (20% dalam ransum) menghasilkan performa itik yang hampir sama dengan yang diberi pakan bungkil kedelai.

2.3. Kandungan Tepung Darah
         Tepung darah merupakan limbah rumah pemotongan hewan yang mengandung protein sangat tinggi (lebih dari 80%), lisin 9% per total bobot kering dan abu serta lemak yang rendah. Tepung darah memiliki profil asam amino esensial yang cukup baik, dengan kandungan lisin, metionin, arginin, cystein, leusin, dan treonin yang cukup tinggi, namun rendah kandungan isoleusinnya.
Tepung darah dibuat dengan beberapa cara baik yang konvensional (langsung dikeringkan dengan sinar matahari atau direbus terlebih dahulu) hingga dengan spray dried (misalnya SBC = spray died blood cells). Kandungan protein tepung darah berkisar antara 92% (SBC; Johnson & Summerfelt 2000), 91,4%-94,5% (spray-dried blood products; Bureau 1999), 84,3% (Laining et al., 2003) dan 87% (Kurniasih et al., 2011).

 Tabel 1. Komposisi Kimia Tepung Darah
Komponen

Bahan kering (g/Kg)
Analisi Proksimat
Protein
852,3

Lemak
14,9

Serat Kasar
35,1

Abu
20,6
Asam Amino
Arginin
39,1

Lisin
81,4

Histidin
53,3

Fenilalanin
61,3

Tirosin
28,8

Mitionin
12,8

Leusin
116

Isoleusin
8,5

Valin
79

Treonin
45,9

Cystin
11,7

Triptofan
14,6
Sumber: Donkoh et al. (1999)


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
         Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa limbah darah yang berasalah dari RPH dapat di manfaatkan dan diolah menjadi campuran pakan ternak, yang memiliki kandungan proteim yang cukup tinggi. Selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, tepung darah dapat menjadi sumber pendapatan.
3.2. Saran
         Sebaiknya penggunaan tepung darah tidak lebih dari 5% karena kecernaan tepung darah kurang efisein, serta darah yang digunkan harus berasal dari ternak yang sehat dan juga belum terkontaminasi.


Daftar Pustaka
Bureau, D.P., Harris, A.M., & Cho, C.Y. 1999. Apparent digestibility of rendered animal protein ingr e- dients for rainbow trout ( Onchorhynchus mykiss). Aquaculture, 180: 345-358.
Crawshaw,  R.  1994.  Blood  Meal:  a  review  of  its  nutritional  qualities  for  pig,  poultry  and  ruminant  animals.  National  Renderers Association Tecnical Review.  United Kingdom. (594) 7.
Dafwang,I .I ., J . M Olomu, S. A . Offiong.  dan  S.  A  Bello.  1986.  The  effect  of  replacing  fish  meal  with  blood  meal  in  the  diets  of  laying  vhickens .  Journal  of  Animal Production Research . (6) 81 - 92
Tacon, A.G.J. 2005. The current and potential use of blood products and blood meal in Aqquafeeds. Scientific Opinion for European Animal Protein Association. Brussels, Belgium. Honolulu, 53 pp.




Comments

Popular posts from this blog

Proposal Usaha Ayam Petelur